Selasa, 03 Januari 2012

teriakanku

terhenti aku menghembuskan karbon sisa dalam tubuhku
dengan renungan sejenak keadaanku saat ini
menjadi pemimpin yang harus menggaungkan dalam teriakan da'wah
sejujurnya aku merasa sangat tidak pantas, merendah dengan semua kepedihan
ada sisi yang menghantarkan wadah kausa untukku
ada juga sisi yang menghimpit semua dinding-dinding senjaku
sadarku betapa aku harus berdiri.
tegap menjulang memegang amanah yang ada di hadapan
sudah aku genggam, sudah aku bawa, dan biarkan.
hingga sejenak aku mati suri untuk bangkit semua.....

Jumat, 25 November 2011

Aku ustazah?..

"sudah cukup kebohongan itu menjadi selimut hangat langkahku, mengecewakan teman-teman yang begitu baik padaku"begitulah ungkapan yang muncul sesekali ketika aku merenungi perjalanan hidup yang teramat jauh kiranya aku tapaki tapi tetap saja seperti ini.

Pagi itu adalah hari yang kesekian kalinya aku dipanggil oleh dosen, untuk menemuinya di ruangannya yang seolah sudah menjadi tempat singgah tangisan-tangisan palsuku, membuat mereka mengenalku Tina hafizah mahasiswi dik.A yang menjadi buah bibir para dosen dan mahasiswa jurusanku
 Lagi-lagi sarapan pagiku adalah Nasihat dan ceramah dosen juga teman-temanku, panas rasanya mendengar ocehan mereka apalagi bila mendengar Alfi berda'wah seolah membuat panas telingaku, sahabatku yang satu ini tak pernah henti menda'wahiku entah sampai kapan? Tapi seperti biasa, aku hanya menundukan kepala sambil mengangguk-anggukkannya dengan akting jitu tangisanku, setelah itu "hahahahahaha...!" aku kembali tertawa lepas membayangkan itu, Betapa bodohnya mereka...karena begitu mudahnya tertipu dengan sandiwaraku, seakan tak lebih bodoh dari seekor lembu.. Senyumku berlalu

***

Pagi yang begitu cerahnya dering Hp kerrenku memecah kesunyian ruangan kamarku
"kring...kring..!"  (2x)
Telp dari kekasihku yang sudah ada janji denganku
"iya sayang.... Tunggu aku ya, 5 menit lagi.....!" jawaban singkat menyudahi percakapan kami..

Rasanya Hidup ini begitu indah, uang selalu cukup dari orang tua yang tajir, punya Pacar tampan dan tunggangannya pun bergengsi, rasanya tidak ada yang kurang hidup ini. "Hahahahahaha.." tawaku menyelingi lamunanku, sambil membayangkan kejadian tadi malam bersama kekasihku, dikamar ini dikamar yang menjadi saksi bisu percintaanku dengannya, aku merasa jadi wanita seutuhnya, tinggal menunggu ia meminangku.

Sang raja siang semakin menggaung perlahan, kulangkahkan saja kakiku dengan riang menuju tempat janjian kami (kamar hotel blue engel) tak beberapa lama aku berjalan dering Hpku terdengar lagi.
"kring,,, kring,,,!" tadinya aku fikir itu telp dari haris-Q, tapi ternyata Alfi si penceramah kelasku  dengan dalil-dalil keramat yang didapatnya dari pengajian dikampus kami, huuhhhhhh..... membuataku malas bertemu, apalagi mengangkat telp darinya.
Telp itu berlalu begitu saja, dan tiba-tiba pesan singkat datang di Hp-Q sebagai ganti da'wah via telp.

SMS
"assalamualaikum Tina, bgmn kbrmu? Rsany lma qt tdak brsua, prtemuan kmarin bit sngkat, smog drimu dlm keadaan shat n sllu dlm lndungn Allah,, Amin. Oh iya, km kenapa tdk masuk hari ini?,, td kamu ditanyain sm Pa' ASEP, dan katanya beliau ingn brtemu dnganmu pekan ini, kpn nih kita kmpul-kumpul lagi, mmebahas Al-Qur'an, alhamdulillah dua hari yang lalu fitri tmn kelas kita mengazamkan dirinya untuk berjilbab, oh iy pekan in ad kajian keislaman d msjid kmpus, aku tunggu kedatangnmu ya.. wassalam"

Laksana Ustazah kesiangan, sok-sok mengajaku ikut-ikutan kajian keislaman pula, rasanya belum terfikir sedikitpun untuk aku ikut begituan, Usiaku masih muda masih jauh akan datangnya tua yang benar adalah menikmati hidup ini selagi muda.sahabatku yang satu itu nampaknya bercita-cita menjadi ustazah mengajak orang pada kebaikan "cappe dech.."

***
Mentari semakin meninggi dengan jubah gersang yang dikenakannya, mengeringkan tanah yang basah setelah hujan tadi malam,taksi yang ku tumpangi melaju begitu lancarnya, setelah beberapa puluh menit argo itu berganti angka, Akhirnya sampai juga, haris kekasihku pasti sudah tak sabar menunggu.

"ini pa, ongkosnya..... Kembaliannya ambil saja..." ujarku kepada supir taksi yang mengantarku

Ku masuki Hotel mewah itu, terhentikan langkahku di pintu No.72 kamar Hotel blue angel, seolah berbeda dari tadi malam, sesampainya didepan kamar hotel itu entah kenapa tubuhku gemetar kaku, seakan cairan yang ada dalam tubuhku bergemuruh kepermukaan kulitku, tanganku pun tak mampu memegang pintu, belum pernah aku merasakan ini biasanya pun aku tenang-tenang saja bercumbu dengannya, berjalan mesra bahkan sampai menikmati malam dengannya, tapi hari ini terasa ada yang beda, entahlah.
Ku ketuk pintu kamar tempat kami janjian, satu,,dua,, bahkan sampai tiga kali ketukan tidak ada yang jawaban, ternyata pintunya tidak dikunci fikirku ini mungkin kejutan dari haris untukku.

Namun ketika pintu itu ku buka, ku dapati haris kekasihku tengah bercinta mesra di bangku kamar hotel itu dengan wanita yang aku kenal sebagai adik dari haris, sinta namanya,,
"haris,,sedang sinta disini? apa maksud dari semua ini,Bukankan wanita itu adalah adikmu?" 
"tina?...Kenapa kamu tidak ketuk pintu dulu sebelum masuk?" begitu terkejutnya haris melihatku, dan langsung mengambil dan mengenakan kembali pakaiannya, sinta pun tersipu gugup melihatku, hanya mampu menutupi tubuhnya dengan selimut putih yang ada di ranjang kamar hotel

"Jawab pertanyaanku haris, siapa dia sebenarnya?.."

Haris terdiam dan sinta pun tak mampu berujar walau hanya sepatah kata pun, ternyata dugaan yang slama ini aku tepis,ada kejanggalan di antara mereka.

"bukankah kau berjanji akan menikahiku setelah aku berikan semuanya? Tapi apa kenyataannya sekarang?"

"aku memang pernah berjanji akan menikahimu tina, tapi itu dulu,, dulu sekali ketika pertama kali kau mau tidur denganku, dan ketika keluargamu pun masih kaya,, bukan saat ini," dengan entengnya haris menjawab tuntutanku dan sangat menyayat kulit hatiku

"lalu yang selama ini kita lakukan kau anggap apa haris?"
"dirimu
tak lebih dari hiburan untukku"

Aku pilu, tak percaya akn itu dan langsung meremas baju yang belum sempurna dikancingkan.
Langsung aku menghantamnya dengan pukulan keras hingga terlihat sobekan di pelipis bibirnya
yang telah menodaiku selama ini.

"laki-laki bajingan kau haris, kau telah merebut kehormatanku dan harga diriku, kau menghancurkan hidupku, suatu saat nanti kau akan tau bagaimana rasanya tersakiti, aku tak mau melihatmu lagi...."

Siang itu seolah mendung, betapa Aku lemah, aku payah,Tubuhku lemas berkabut pilu menyaksikan semua itu, segera aku tinggalkan kamar Hotel yang menjadi saksi bisu kehinaanku, dan kenistaan kekasih yang tak pernah aku sangka sebelumnya aku berjalan membawa noda dengan butiran-butiran bening air mata penyesalan yang sangat mendalam

Perihnya hatiku bertabur garam, sambil mengeluh dalam diri melahirkan tangisan
"betapa bdohnya aku,, betapa bodohnya aku,,"  hanya itu ungkapan Nuraniku yang seakan terdengar kencang di benakku, hingga menghantarkan langkahku, batapa aku tak lagi tegap, pandanganku gelap, bulir-bulir bening yang mengembun dimataku yang kian sayu pun tak hentinya keluar, helaan nafas yang aku punya seolah semakin habis,,

***

Seturunnya aku dari angkot ku lihat dari kejauhan gang kost tempat tinggalku ada alfi yang sedang duduk di teras kecil kamarku, sontak ia terbangun dari duduknya dan mengucapkan salam ramah padaku.
"assalamualiakum...... Tina,"
"waalaikumsalam.." jawabku pendek
"kenapa murung? Dirimu menangis?"
"Alfi, aku baik saja, ada perlu apa? Dirimu mencariku?........"
Berusaha keras aku menutupi kepedihan yang menghancurkan semua permukaan hatiku selaku seorang wanita.
"Tina,aku sangat tau bagaimana dirimu, berkenankah dirimu berbagi pada sahabatmu yang telah lama menunggumu"
Aku hanya bisa menundukan kepalaku, letih rasanya aku berbohong lagi, Sontak aku langusung memeluk alfi begitu erat,aku merasakan keteduhan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

"ayo , coba kita bicarakan didalam! Tidak enak dilihat orang yang berlalu lalang,Boleh aku masuk ke kamarmu?"
"Alfi, jangan tinggalkan aku sendiri, aku mohon.."
"Sssssttt.. Tenang tina, aku tidak meninggalkanmu kok, masih akan tetap disini"
Isak tangisku tak terhenti, membasahi bahu alfi, namun alfi tetap berusaha menenangkanku dengan keteduhannya, membuat kekacawan fikiranku menjadi sedikit tenang.

***

Lantunan adzan maghrib yang terdengar begitu merdu, dari masjid kecil di samping kostku, seakan memanggil para mahasiswa di lingkungan kost yang sibuk dengan dunia dan idealisnya begitu juga dengan aku, lantunan merdu itu membuat kelopak mataku tak lagi mau tertutup, dan ketika aku bangun dari tidurku terdengar suara gemercik air di kamar mandi kostku, tak lama kemudian alfi menghampiriku selepas berwudhu
"tina..! Bagaimana kondisimu, sudah enakkan?"

Aku masih terdiam dan memandangi wajah alfi yang begitu berseri dengan bulir-bulir bening air wudhu pmbatas nafsu yang masih melekat di wajahnya, seraya hatiku
"alfi, dirimu begitu baik dan anggun, beruntungnya aku punya teman sepertimu.."

"tina,Mmmgghhh kok melamun,,,!!" alfi memecah lamunanku sambil mengusapkan tangannya yang dingin karena wudhu
"iya fi,,,!!"
"Kita shalat maghrib dulu yuk, insya Allah akan menenangkan dirimu,,!"
Aku terdiam malu, sekian lama aku hidup aku hanya melakukan shalat ketika hari raya idul fitri, dan idul adha, akupun lupa bagaimana tata cara shalat yang benar, sungguuh terlalu.
Tapi alfi membimbingku dengan semangatnya yang kurasakan,
Seusai shalat dan do'a bersama, aku coba mencurahkan apa yang aku rasakan pada Alfi, aku beberkan hampir semua yang aku lewati, butir-butir embun yang hinggap di permukaan mataku jatuh satu demi satu membasahi jubah(mukena) yang aku kenakan, betapa menyesalnya aku, tak pantas rasanya aku hidup sebagai makhluk, alfi tidak banyak bicara, dan langsung membuka Mushaf A-Qur'an dan mambacakan satu ayat padaku dengan pemaparannya

"katakanlah,"wahai hamba-hambaku yang melampaui batasterhadap diri mereka sendir! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah .sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.sungguh,dialah yang maha pengampun lagi maha penyayang" (Q.S.Az-Zumar.53)"

Pemaparan alfi membuatku tersipu malu akan hidup ini, aku terdiam dan lagi-lagi butir-butir embun kelopak mataku kembali jatuh satu demi satu, aku sudah sangat jauh melangkah di jalan kegelapan dengan semua kenistaan, namun begitu khianatnya aku pada Allah yang maha dari segala maha, yang masih memberikan nikmat padaku meski pengkhianatan selalu aku lakukan "ya Allah,,,,, ampuni aku......."
senja itupun semakin gelap dengan sambutan adzan isya yang berkumandang menyusul maghrib hingga kami penuhi panggilan kekasih yang maha tinggi yang cinta dan kasihnya tak tertandingi (Allah)

***

Shubuh datang dengan lafaz pujian menggelegar embun, mengakhiri qiyamullail pertama untukku dengan witir sebelum melaksanakan shalat shubuh dengan alfi yang malam itu menginap di kostku.
Shubuhpun berlalu dengan do’a dan air mata penyudahi semua langkah hitamku tiba-tiba Hp-Q berdering sangat keras
"kring,,kring,, (3x)"
"Halo asssalamualiakum...."jawabku
"tina,,ini ayah,,!" dengan kesedihan yang nampak dari raut ujaran ayahku, membuatku begitu penasaran
"Ada apa yah?"
"Ibumu nak!.."
"kenapa dengan ibu?.."
"ibumu...."
Tubuh ini terdiam kaku, terjepit pilu hingga rasanya tak adal lagi oksigen yang dapat aku hirup, tulangku terasa remuk, tak lebih dari sekedar ungkapan kesedihanku
gemetar.. Dan gelap..

"tina,, tin.... Tina,,,, bangun!.. Kamu kenapa?"
Kepanikan alfi begitu terdengar di telingaku, hingga aku membuka mataku yang masih sayu dan masih belum percaya akan semua ini.
Betapa belum usai rasanya sakitnya hatiku menerima kenyataaan atas penghianatan haris, kembali terlumuri oleh air garam yang sangat membuat perih luka hatiku, dengan kepergian ibuku, belum sempat aku membuatnya tersenyum bangga atas diriku, sekarang ia telah pergi untuk selamanya karena serangan jantung tadi malam, penyakit yang telah lama di idap ibuku, tapi kenapa Allah begitu tega terhadapku??

"Tina..?"
"penyakit lama ibuku membawa pergi ia untuk selamanya fi..!! Tadi ayah menelponku dan mengabarkan berita duka itu, ya Allah,,"

"innalillahi wainnailaihi rooji'un,,, sabar ya tin, yakin ini yang terbaik, Allah yang lebih tau dirimu harus tabah,Kamu kan ngg sendiri ..." alfi mencoba menenangkanku

"Tapi kenapa begitu cepat semua ini terjadi fi, aku ngg kuat..?"

"Mmmgghh,, ngg baik dirimu berkata seperti itu"
"Allah yang tau dirimu kuat atau tidak, semua ini datang padamu karena betapa Allah tau dirimu kuat fi, tinggal bagaimana kita mengambil pelajaran dari semua yang terjadi"

"terimakasih ya fi,,"
Dengan keteduhannya alfi merangkulku dan mengusap-usap bahuku yang seakan rapuh karena semua ini, dia benar-benar sahabat yang sangat baik, betapa lugunya aku yang tak pernah mau merasakan sentuhannya yang begitu lembut.

***

Setibanya di kmpung halamanku, hampa mulai merasuki batinku namun tetap ku coba tegar menghadapinya, karena aku tau bahwa aku tidak sendiri, tak sempat aku melihat wajah ibuku untuk yang terakhir kalinya, karena ia sudah dikebumikan 1 hari lalu saat aku sedang di perjalann pulang, perih rasanya.
di tanah yang lembab, dengan taburan bunga yang waangi semerbak,lemah tanganku mengusap batu nisan yang berukirkan namanya, butir-butir air mata berjatuhan tak terbendung lagi, betapa penyesalanku begitu pilu, nasihat-nasihat itu tak akan lagi aku dengar dari mulut manis sang ibu yang tak pernah letih mengurusiku hingga aku terkadang mampu membentaknya, maafkan aku ibu
Ku pandangi gundukan tanah yang menyelimuti wanita sempurna itu semakin jauh, dan berlalu..

Senja mulai merona memecah merah, ku lihat alfi tengah membaca ayat suci Al-qur'an balkon kamarku, ia terlihat letih tapi tak pernah aku mendengarnya sedikitpun mengeluh, senyumnya begitu anggun, dengan kata-katanya yang begitu santun dan balutan kerudung hijau yang begitu indah

"alfi, aku mu bicara!!"
"bicara apa tina... Bukankah tidak ada yang melarangmu untuk berbicara?"
"Tapi kamu jangan ketawain aku..! Aku malu"
"mmmggghh kita kan kenal sudah lama banget tina, kenapa mesti malu?"
"Aku mau pakai kerudung, ajari aku ilmu agama ya.....!!!"
Sontak suasana diruang kamarku sepi, ku lihat wajah alfi yang anggun melahirkan senyuman kecil

"Kenapa fi? Tuh kan kamu pasti ketawain aku?"

"ya Allah,Terimakasih Robb, betapa senangnya hatiku mendengar kalimat itu, dengan senang hati kita belajar Agama bersama ya, dan insya Allah ahad pekan ini juga ada jadwal kajian keislaman di masjid kampus kita, nanti kita belajar bersama disana"

Dengan keteduhan alfi hadir mengisi kegersangan hatiku yang hitam pekat tertutup dosa, ia bagai malaikat yang menjelma dengan semua kelapangannya menghadapiku, sahabat yang selama ini aku kenal, aku ejek, aku hina, bahkan aku jaili sekalipun ternyata adalah sesosok wanita yang anggun lagi cerdas, beruntungnya aku mengenalmu “Ustazah alfi”. Terimakasih ya Allah.....

Rabu, 16 November 2011

Segumpal segi merah

Dahulu ia terluka pada kepolosannya
Menangis pada kesepiannya
Teriak pada hampanya kekosongan
Dengan cinta yang seadanya
Ataupun senyuman berujung tawa
Ia terus berjalan digurun yang dingin akan teriknya
Juga menapaki salju yang panas akan kebekuan
Hanya sendiri dengan luka
Hanya sendiri tanpa tawa
Keluhan,,, keluhan,, pada kebutaan
MALANG,,, memang malang alurnya
Tapi kiranya kita mau berkorban?

Rabu, 12 Oktober 2011

senja,,,! Aku menunda.

Ketika sungguh harapku penuh akan keindahan itu,
Bertalu--talu kembali aku pada renungan qolbu akan diri ini
Berjalan dengan tapak kai yang banyak membawa beban dan luka
ketika kembli aku urungkan niatku akan senyummu senja,,
Terbata kembli dan lagi-lagi aku dingin dihadapanmu
Meski senyumanmu menghangatkan setiap pori-poriku
Tetap saja kekagumanku bertepuk dengan kekosongan
Karena aku tau kau memiliki rajutan lain dengan dirinya
Aku terjatuh lagi pada lubang yang slalu sama
Mengubur semua harapan itu yang nyata aku menahannya
Biar aku rela senyuman itu merona di hadapnya
Bukan hadpanku yang penuh akan ketabuan dan kerendahan
Senja,,,,,,,,,! Kelak dirimu akan mengerti langkahku
Kelak dirimu akan mengerti kedinginan nuraniku dihadapmu
Betapa jalanku panjang berliku,
Berkhiaskan tawa dan keterjalan curam yang memecah kulitku
Harapanku masih ada akan rasa terhadapmu
Mimpiku masih nyata tergurat pekat melekati semua khayalannya
Biar aku pendam saja ungkapan ini, hingga nanti
Dimana masa yang tak lagi bertepi ketika melihatmu bahagia
Itu sudah terasa cukup untukku
Karena senja,,,, aku merasa damai memandangimu
Sampai bertemu di lain waktu, kelak akan aku kirimkan salamku
Pada fajar yang nanti akan kau hampiri di sudut bumi...... 

dzuhur-Q mendung

aku melangkah dengan penuh kekosongan
menapaki semua lembaran-lembaran penghantar kesejukan
kuhadapkan tubuhku pada pangkuan sang pencipta
ketika guratan-guratan kecewa aku dapatkan dari apa yang aku harapkan
setelah ku basuh kulitku dengan kesejukan telaga kausa yang aku gambarkan
dalam dinginnya butir-butir jernih menyejukkan kobaran hatiku
aku diam, aku bungkam dan tak lagi dapat berkata banyak
hingga harapku habis termakan detik waktu yang ada di hadapanku
senyap,,,,,, sontak,,,,,, mengubur semua keramayan saat itu
aku tundukkan kepalaku pada semua pengaduan
"ya,, Allah, bukankah aku tidak sendiri??"
ujar hatiku memecah tabu siang itu
berlanjut dengan keharuan langkah yang terbayang begitu jauh
kata-kata yang tersusun begitu saja menghampiri setiap pendengaran nuraniku
tak tersadar bulir-bulir jernih air mataku melewati setiap guratan di kulitku
hingga terjatuh menghempas lantai yang mulai menua
aku bersimpuh pada dzuhur yang tabu
berbalut nikmat yang penuh akan misterinya
karena ternyata aku keliru pada jalanku
berharap penuh pada ujaran tabu.....

Selasa, 11 Oktober 2011

senja itu menyapaku

senja itu menyapaku dengan cerianya di hari ini,
senyum indahnya mereka memecah lamunanku
ungkapanku terbata tak lagi tangguh
senyumku pun terasa dingin membekukan semua pandangan
namun sungguh senjaku membalut kehangatan untukku
tak dapat berujar, meski hanya sebatas sapaan
senjaku bermandikan kuning keceriaan hari ini
diruang itu, di saat itu, di pandangan itu, sungguh aku termangu
dinginku bukan ketidaknyamanan
namun dinginku adalah seribu ungkapan tentangmu
senjaku,,,,,, senja yang menghangatkan semua rusuk-rusuk tulangku
hingga akhirnya begitu saja berlalu, aku tinggalkan senjaku dalam keramayan
nyanyian sunyi menghiasi langkahku membayangkannya
senjaku,,,, laksana mawar merah yang indaha ku pandangi dengan semu balutan duri-duri
sederhan, namn banyak makna... senjaku..... senjaku,,,,,
hayalku tinggi tentangmu, senjaku....senja yang indah untukku
tak ada kebuasanku menatap matamu, namun
ribuan rasa yang tertampung dalam wadah pandanganku tentagnmu
senjaku,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,senja yang indah......

Minggu, 09 Oktober 2011

Mawar merah harapku

butir-butir embun yang membasahi permukaanmu yang indah
merah merona memanjaka kelopak mataku ketika memandangmu
sejuk, indah, meneduhkan shubuhku meski mentari menusuk-nusuk kelopak kornea-Q
tak ingin aku palingkan, meski hanya sekejap saja
karena takut bagiku kehilanganmu, dengann tangkasnya kumbang-kumbang yang hinggapimu
oh,,, ranum merahmu sudah cukup aku kehilanganmu dimasa lalu
serbuk sarimu termakan waktu yang semakin membunuh karakterku
karena tahukah diriu, betapa harapku begitu besar terhadapmu
tak mau aku kehilangan indahnya dirimu yang kedua kalinya
meski embun itu membalutimu, dan duri tajam menghujamku
tetap saja, harapku indah terhadapmu.....