Rabu, 12 Oktober 2011

senja,,,! Aku menunda.

Ketika sungguh harapku penuh akan keindahan itu,
Bertalu--talu kembali aku pada renungan qolbu akan diri ini
Berjalan dengan tapak kai yang banyak membawa beban dan luka
ketika kembli aku urungkan niatku akan senyummu senja,,
Terbata kembli dan lagi-lagi aku dingin dihadapanmu
Meski senyumanmu menghangatkan setiap pori-poriku
Tetap saja kekagumanku bertepuk dengan kekosongan
Karena aku tau kau memiliki rajutan lain dengan dirinya
Aku terjatuh lagi pada lubang yang slalu sama
Mengubur semua harapan itu yang nyata aku menahannya
Biar aku rela senyuman itu merona di hadapnya
Bukan hadpanku yang penuh akan ketabuan dan kerendahan
Senja,,,,,,,,,! Kelak dirimu akan mengerti langkahku
Kelak dirimu akan mengerti kedinginan nuraniku dihadapmu
Betapa jalanku panjang berliku,
Berkhiaskan tawa dan keterjalan curam yang memecah kulitku
Harapanku masih ada akan rasa terhadapmu
Mimpiku masih nyata tergurat pekat melekati semua khayalannya
Biar aku pendam saja ungkapan ini, hingga nanti
Dimana masa yang tak lagi bertepi ketika melihatmu bahagia
Itu sudah terasa cukup untukku
Karena senja,,,, aku merasa damai memandangimu
Sampai bertemu di lain waktu, kelak akan aku kirimkan salamku
Pada fajar yang nanti akan kau hampiri di sudut bumi...... 

dzuhur-Q mendung

aku melangkah dengan penuh kekosongan
menapaki semua lembaran-lembaran penghantar kesejukan
kuhadapkan tubuhku pada pangkuan sang pencipta
ketika guratan-guratan kecewa aku dapatkan dari apa yang aku harapkan
setelah ku basuh kulitku dengan kesejukan telaga kausa yang aku gambarkan
dalam dinginnya butir-butir jernih menyejukkan kobaran hatiku
aku diam, aku bungkam dan tak lagi dapat berkata banyak
hingga harapku habis termakan detik waktu yang ada di hadapanku
senyap,,,,,, sontak,,,,,, mengubur semua keramayan saat itu
aku tundukkan kepalaku pada semua pengaduan
"ya,, Allah, bukankah aku tidak sendiri??"
ujar hatiku memecah tabu siang itu
berlanjut dengan keharuan langkah yang terbayang begitu jauh
kata-kata yang tersusun begitu saja menghampiri setiap pendengaran nuraniku
tak tersadar bulir-bulir jernih air mataku melewati setiap guratan di kulitku
hingga terjatuh menghempas lantai yang mulai menua
aku bersimpuh pada dzuhur yang tabu
berbalut nikmat yang penuh akan misterinya
karena ternyata aku keliru pada jalanku
berharap penuh pada ujaran tabu.....